by Ofi Zukhrufia

Human tends to make life much more complicated (even though I personally think life itself is already complex ha ha ha).

Beberapa minggu terakhir dapet banyak banget cerita, yang ceritanya spesifik menceritakan tentang hubungan seorang manusia dengan manusia lainnya.
Nggak cuma dalam konteks hubungan antara laki-laki dengan perempuan alias pasangan, tapi juga hubungan antara orang tua dengan anaknya, hubungan kakak beradik, hubungan antar sesama teman.

Cerita yang pertama, ada seorang istri yang mengeluhkan hobi suaminya: selingkuh.
(Anjir hobi kok selingkuh)
Tapi sang istri merasa nggak bisa melakukan apa-apa karena menurut dia, memang dari awal dia yang suka duluan sama sang suami.
Lha yo gimana mbak, memang mbiyen sing seneng ki aku…
Emang sih sangat mungkin terjadi kalau dalam suatu hubungan itu ada satu pihak yang lebih suka, lebih sayang atau lebih cinta.
Tapi karena ini konteksnya adalah suami istri yang terikat dalam hubungan pernikahan, yaa udah seharusnya menghormati ikatan tersebut to yaa.
Kalau si suami ini emang nggak secinta itu sama sang istri, toh dia udah berkomitmen dan komitmennya juga bukan komitmen main-main, beliau udah berkomitmen untuk jadi pasangan seumur hidupnya.
Memangnya komitmen itu nggak berarti apa-apa ya?

Meskipun dalam rangka mencoba fair, aku juga berusaha menempatkan diriku di posisi sang suami.
Kenapa ya, kok bisa, sang suami ini hobinya selingkuh.
Pikiran yang terlintas di pertamaku adalah, si suami merasa bahwa istrinya kurang dan mungkin banyak wanita lain di luar sana yang lebih.
Istrinya kurang ini lah kurang itu lah, sementara selingkuhannya lebih ini lah lebih itu lah.
Seandainya asumsiku ini benar, ya memang manusiawi sih.
Kayaknya memang udah fitrahnya manusia itu nggak pernah puas.
Tapi udah fitrahnya juga kalau manusia itu bukan makhluk yang sempurna.
Mau nyari pasangan yang sesempurna apapun, mau nyari sampai ke ujung dunia sekalipun, tetep aja pasangan yang kita temukan pasti akan punya kekurangannya….
Dan hal yang paling tepat yang bisa kita lakukan adalah menerima kekurangan itu.
Apalagi kalau menyadari kalau diri kita juga banyak kekurangannya.

Cerita yang kedua, ada seorang perempuan yang mengeluhkan sikap kakak dan adik-adiknya, yang entah kenapa berubah menjadi dingin dan tidak bersahabat.
Sebenernya permasalahannya tuh nggak jelas, namun perempuan ini berasumsi sikap kakak dan adik-adiknya itu dilandasi kecemburuan karena saudara-saudaranya menganggap perempuan ini terlalu dekat dengan ayah mereka…
Sejujurnya sampai sekarang aku masih merasa kesulitan mencerna cerita ini, karena they’re siblings, for God sake!
They grew up together, teased each other, and fought, laughed, cried together.
They supposed to support each other and have each other’s back!
Apakah kebersamaan selama mereka tumbuh dewasa nggak berarti apa-apa?

Cerita yang ketiga dan keempat akan jadi terlalu panjang kalau ditulis disini.
Tapi dari keempat cerita itu, ada satu pemikiran yang ternyata cukup menggangguku…

I really really want to believe that love is enough.
That love is the answer.
Because, well, you know, things happen and people make mistakes (because us human ARE NOT PERFECT), but I really want to look at the big picture: the love we have for each other.

Tapi ternyata kenyataan berbicara lain…
Seandainya benar bahwa rasa sayang itu cukup, harusnya sang suami nggak perlu selingkuh karena dengan rasa sayang ke istrinya, kekurangan-kekurangan istrinya bisa diterima…
Seandainya benar bahwa rasa sayang adalah jawabannya, harusnya kakak-beradik tadi nggak perlu bertengkar karena mereka saling menyayangi satu sama lain…

Aku jadi mikir apa jangan-jangan aku terlalu naif…..

Anyway, aku masih sedikit berharap kalau “love is enough” itu benar.
Let’s see then.
Good night, good people.

Advertisements