Ayah & Mama

by Ofi Zukhrufia

Ada satu momen dalam penerbangan dari Singapura ke Istanbul yang sangat saya ingat.

Di seat di depan serong kanan saya, ada seorang wanita yang terbang dengan anak laki-lakinya, mungkin usianya sekitar 4 atau 5 tahun.
Dari sejak take off, anak lelaki tersebut sudah tidur dengan posisi melintang, sehingga dia mengambil jatah kursi ibunya.

Saya perhatikan sepanjang malam sang ibu duduk dengan posisi yang tidak nyaman, dan beliau seperti tidak bisa tidur, mungkin karena takut mengganggu anaknya yang sedang terlelap.
Ketika saya terbangun karena bau makanan, saya melihat beliau sedang tidur-tidur ayam dengan posisi yang (menurut saya) sangat-sangat tidak nyaman.

Sebenarnya saya sedikit bertanya-tanya, mengapa ibunya tidak membiarkan anak tersebut tidur dalam posisi duduk supaya sang ibu bisa duduk di kursinya dengan lebih nyaman.
Atau membiarkan si anak laki-laki tidur di pangkuannya (saya rasa itu akan membuat si ibu lebih nyaman).

Ketika pagi datang, mungkin sekitar pukul 4 waktu Indonesia (pemandangannya sangat indah, btw) anak tersebut terbangun. Ketika sang anak bangun, saya ingat ibunya menyapanya dengan lembut sambil tersenyum “Morning Adriano“, kata sang ibu.
Kemudian beliau mengantarkan si anak–Adriano–ke toilet, setelah itu menyuapinya sarapan, dan membacakan buku cerita kepada anaknya.

Saat itulah saya sadar, hanya cinta Allah kepada umatNya lah yang bisa melebihi cinta orang tua kepada anaknya.

Saya masih takjub dengan sang ibu yang rela tidak tidur semalaman supaya anaknya bisa tidur dengan nyenyak.
Singapore-Istanbul was a long flight indeed.
Saya yang tidur berjam-jam di pesawat saja rasanya masih sangat capek.

Ketika itulah, saya teringat ayah dan mama dan tanpa sadar saya meneteskan air mata (thanks God the lamps were off and inside the plane was dark!).
Saya jadi ingat bagaimana stressnya beliau berdua dalam menghadapi perjalanan saya ke Belanda-Kroasia ini.
Mulai dari pengajuan visa yang ditolak dan terpaksa harus ke Jakarta lagi untuk kedua kalinya, keribetan packing dan mencari barang-barang yang dibutuhkan, keribetan keberangkatan, sampai ikut mengantar ke Jakarta dan masih dapat cobaan tidak bisa langsung terbang (Li** A** memang kurang ajar, kalau tidak terpaksa tidak usah naik itu deh).

Di momen itu, saya sangat sangat sangat berterimakasih dan bersyukur kepada Allah karena sudah menitipkan saya ke beliau berdua, yang begitu luar biasanya menghadapi saya dan tidak meminta apapun dari saya.
Saya yakin yang ayah dan mama minta hanya supaya saya menjadi anak yang sholehah dan berbakti kepada Allah, agama, masyarakat dan mereka berdua :”_

Saya merasa saya tidak akan pernah bisa cukup membalas kasih sayang mereka dalam bentuk apapun, karena ia tidak ternilai harganya.

Saya hanya bisa berdoa, semoga Allah memberikan umur yang panjang yang bermanfaat kepada beliau berdua, memberi rezeki yang berlimpah dan barokah, memberi kesehatan selama hidup serta memberi keselamatan baik di dunia maupun di akhirat kelak :”)

Allaahummagh firlii waliwaaliddaya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiraa

901667_10202041765143837_314499723_o

Advertisements