Sebuah Kisah.

by Ofi Zukhrufia

Ini adalah sebuah kisah.
Kisah tentang seseorang yang kehilangan salah satu sahabatnya (atau, mereka memang tidak pernah benar-benar bersahabat sebelumnya?)

Aku tidak pernah benar-benar mengenalnya.
Aku hanya mengetahui keberadaannya karena kami berada dalam satu tempat.
Tempat yang sama-sama kami sebut rumah kedua.
Mungkin hanya itu satu-satunya persamaan di antara kami berdua.
Kami bagaikan langit daan bumi.
Bagaikan utara dan selatan.
Aku, wakil internal yang berurusan dengan birokrasi.
Sedangkan dia adalah wakil eksternal yang eksis, dan terkenal dimana-mana.

Kesempatan untuk mulai mengenalnya lebih jauh datang bersamaan dengan dimulainya kisah persahabatan kami.
Kami–aku dan dia, bersama dengan dua orang kawan lainnya, menerima mandat untuk berangkat menyeberangi lautan menuju negeri di seberang.
Perjalanan panjang yang ditempuh demi menuntut ilmu.
Memang benar kata pepatah, bahwa tujuan yang sama akan mempertemukan orang dalam perjalanan.

Dalam kurun waktu satu minggu kami belajar, aku mulai mengenalnya lebih baik.
Saat itulah aku menyadari bahwa dia adalah teman yang menyenangkan untuk diajak bicara tentang apa saja.
Bahwa ternyata kami mempunyai banyak ide-ide dan gagasan yang sama.
Hei, kalian tidak menemukan teman seperti itu setiap hari kan?

Persahabatan kami pun berlanjut sampai enam bulan dan kami semakin dekat (atau setidaknya, aku yang beranggapan seperti itu).
Enam bulan memang waktu yang singkat, namun entah mengapa aku sudah merasa dekat dengannya.
Cukup dekat hingga akhirnya kami saling percaya untuk menceritakan hal-hal yang bersifat pribadi.
Aku sempat bercerita kepadanya, tentang anak laki-laki yang aku suka.
Dia menceritakan kepadaku tentang seorang pria yang sudah disiapkan keluarganya untuknya.
Kami saling mendengarkan satu sama lain, memberikan komentar, atau sekedar berbagi tawa.

Sampai suatu saat, dia tidak membalas kicauan tweet-ku.
Aku yakin kalian berpikir aku berlebihan.
Memangnya apa salahnya tidak membalas tweet seseorang?
Ya, awalnya aku juga mengira dia sedang sibuk dengan berbagai urusannya.
Sampai ketika kami tidak sengaja berpapasan di kampus, dan dia melenggang begitu saja tanpa menyapaku.

Saat itulah aku sadar, bahwa garis kami sedang melanjutkan perjalanannya.

Mungkin selama enam bulan terakhir garis perjalanan kami sedang bersilangan.
Dan Tuhan, dengan segala alasannya, sengaja mempertemukan.
Entah apa alasannya, aku tidak tahu.
Mungkin Beliau ingin menunjukkan, bahwa Beliau-lah Dzat Sang Penguasa Hati Manusia.
Bagaimana mungkin malam sebelumnya saling bercengkerama berbagi tawa, esoknya tidak bertegur sapa?

Butuh waktu lama bagiku untuk menerima semua ini.
Bukankah salah satu kesedihan terbesar adalah ketika orang yang kamu anggap sahabat ternyata tidak menganggapmu demikian?

Pernah aku ingin datang dan bertanya.
Mengapa dia tidak lagi menyapaku.
Mengapa dia tidak lagi bercerita kepadaku.
Namun kuurungkan niat itu.
Aku percaya, ada pelajaran yang sedang Tuhan berikan kepadaku melalui dia.

Karena Tuhan tidak akan bermain dadu dengan siapa kita bertemu.

Advertisements