Sederhana.

by Ofi Zukhrufia

Hari Minggu kemarin, aku ada buka bersama bareng temen-temen SDku.
Ada satu hal yang pengen bikin aku cerita tentang mereka :D
Sebelumnya, aku mau cerita dulu tentang masa SDku.

Saat itu tahun 1998.
Aku bersekolah di SD Muhammadiyah Suronatan Yogyakarta.
Kebanyakan orang Jogja pada masa itu punya kebiasaan menyekolahkan anak mereka di sekolah yang dekat dengan rumah.
Tidak terkecuali kedua orang tuaku :))
SD tersebut terletak di kampung sebelah, jaraknya cuma lima menit jalan kaki dari rumahku.
Kalau naik motor, satu menit juga nyampe.

Dan ya, hal itu juga terjadi pada orangtua teman-temanku.
Kebanyakan teman-teman sekelasku merupakan warga kampung Suronatan itu sendiri.
Kalo enggak ya warga kampung sebelah, seperti Kauman atau Notoprajan.
Agak geser sedikit, ada orang Keraton dan Kadipaten.
Sedikit lebih jauh, ada orang Wirobrajan dan Jokteng.
Ada juga sih teman-temanku yang rumahnya di daerah Godean, Gamping, Condong Catur dan Jakal.
Tapi itu bisa dihitung dengan jari.
Dan kebanyakan rumahnya di daerah selatan, bukan utara.

Menurutku, secara keseluruhan kami semua berasal dari status ekonomi yang biasa-biasa saja.
Sedikit sekali yang ke sekolah dengan sepatu dan tas bermerk.
Yang dijemput dengan menggunakan mobil juga bisa dihitung dengan jari.
Kebanyakan kalo nggak jalan kaki ya naik sepeda.
Atau dijemput dengan motor.
Bagus sih, karena aku jadi nggak merasakan adanya kesenjangan sosial.
Selama enam tahun, kami menjelma menjadi sebuah keluarga kecil yang sederhana.
Dan masa SD itu masa yang paling menyenangkan.
Sekolah itu kerjaan sampingan :))
Kerjaan utama adalah ketemu temen-temen dan main :))

SD itu jamannya ece-ecean nama bapak, huahahaha :))
SD itu jamannya cinta monyet yang surat-suratan ra cetho :))
SD itu jamannya main jek-jekan sama anak-anak cowok :))
Pokoknya jaman SD itu menyenangkan, apalagi gurunya baik-baik.
Guru jaman SD itu banyak banget yang berkesan.
Paling oke tetep Pak Zab :”
Sabar banget. Baik banget. Perhatian banget :”

Sampai akhirnya enam tahun sudah kami lewati.
Mau nggak mau, aku dan teman-temanku harus berpisah dan mengambil jalan masing-masing.

Aku keterima di salah satu SMP Negeri favorit di Jogja.
Pertama kalinya masuk, aku mengalami apa itu yang disebut culture shock.
Gimana nggak shock, seangkatan yang biasanya cuma dua kelas, paling banter 70 orang, tiba-tiba jadi ada sepuluh kelas.
Seangkatan jumlahnya hampir 400 anak, yang berarti ada 400 karakter.
Belum lagi, sekolah yang ada di utara itu konon kabarnya terkenal borju.
Isinya anak-anak orang kaya.
Nggak semua sih, tapi memang kebanyakan iya.
Di SMP ini aku baru mulai ‘terbuka’ wawasannya.
Nggak semua orang itu sederhana.
Nggak semua orang itu baik.
Selama di SD, aku merasa cuma melihat hal-hal baik aja.
Aku cuma melihat putihnya dunia.
Ketika SMP itulah, aku baru sadar kalau dunia itu nggak seputih yang aku kira.
Maklum ya, SDnya SD kampung :))

Awal-awal SMP, aku masih sering main ke SD.
Sekedar reunian dan ngumpul-ngumpul.
Nostalgia, liat SDnya jadi kayak apa setelah lulus.
Makin lama, udah nggak pernah ke SD lagi.
Udah lost contact sama temen-temen.
Paling cuma sama temen yang deket banget aja masih sering main bareng.

Ketika SMA, udah bener-bener nggak denger kabar temen SD sama sekali.
Udah nggak pernah main ke SD juga.
Udah nggak tau kabarnya guru-guru gimana.
Setiap mau reuni, cuma wacana dan nggak terlaksana.
Sampe hari itu.
Jumat, 28 Mei 2010.
Keluarga kecil kami berduka.
Kami mendapat kabar kalau salah satu saudara, kakak, adik kami telah tiada.
Meninggal dalam kecelakaan.
Namanya Reza.

Tanpa diminta, kami berkumpul kembali.
Memang tidak semua, tapi cukup untuk mengobati rindu karena lama tidak berjumpa.
Walaupun bukan reuni seperti ini yang kami harapkan…

Karena kejadian Reza, kami memutuskan untuk kembali menyambung tali silaturahmi yang sempat terputus.
Bulan puasa di tahun yang sama, akhirnya rencana untuk mengadakan buka bersama sekaligus reuni terlaksana.
Dan… it was super fun!
Karena lama gak bertemu, saling bertukar kabar dan bertukar cerita.
Menghabiskan malam dengan mengambil sejuta gambar.
Bikin keributan di rumah makannya :)))

Sampai tahun ini, kami bertemu lagi di momen yang sama.
Yang bikin temen-temen SDku beda dari temen SMP, ato SMA, atopun kuliah adalah kesederhanaannya.
Suasana merakyatnya.
Kapan lagi ngobrol pake bahasa jawa, sambil ece-ecean, kalo nggak sama temen SD.
Ketemu mereka itu kayak refreshing.
Di tengah-tengah hidupku yang kebanyakan diisi anak-anak orang kaya yang mengejar harta, mementingkan gengsi, mengejar prestis (HAHAHA iki judgement e kok elek banget :)))).
Karena di mataku, temen-temen SDku tampil apa adanya.
Nggak dibalut embel-embel gengsi dan jaga image.
Persetan dengan pencitraan, disini semua setara.

 

Di tengah-tengah hidupku yang berlalu sangat cepat….
Di tengah-tengah rutinitas yang mencekik dan membosankan….
Gojeg kere di angkringan pada malam hari di sudut kota itu menyenangkan :)

Advertisements