Life. And Question About It.

by Ofi Zukhrufia

Diketik pada jam 2 siang sehabis ujian blok 1.5

HELLYEAAAHHHHH akhirnya 1.5 berakhir!!!!!!
Semua tense selama seminggu terakhir ini akhirnya ilang juga. Fiuh~
Alhamdulillah :)

Btw, Allah SWT is very generous.
Ini bukannya gue mau mempertanyakan keadilanNya lho ya. Karena toh di surat At-Tiin ayat 8 juga udah dibilang.

Alaysa allaahu bi-ahkami alhaakimiina
Bukankah Allah adalah hakim yang seadil-adilnya?

Cuma lagi bertanya-tanya aja, apa alasan dibalik semua ini #tsaaahhhh
Jadi kemaren waktu blok 1.4, I did my very best.
I worked my ass off to get perfect score.
Aku belajar 100%, belajar super-detail, ngerangkum ulang, pokoknya super niat.
Kebetulan materinya nggak terlalu banyak dan juga lumayan gampang.
At the end of the block, waktu ujian, I’m pretty surprised with the score I got.
Emang sih nilainya naik dibanding blok-blok sebelumnya, tapi masih belum mencapai nilai yang aku targetkan.
Rasanya itu…. Bersyukur sih. Tapi tetep ada rasa kecewa karena nggak bisa mencapai target :(

Bandingin sama blok 1.5 ini.
Blok ini membahas tiga materi sekaligus, sistem syaraf, sistem hormon dan panca indera.
Di textbook tiga materi itu dibagi jadi 8 bab. Padahal satu blok efektif cuma 6 minggu.
Like hell kita harus mempelajari semua materi itu ._.
Udah gitu di blok ini aku banyaaaaaaak banget kegiatan.
Aku sering nongkrong-nongkrong ra cetho di BEM.
Kegiatan TBMM yang bener-bener menguras waktu, diklatsar, bikin dragbar, seleksi.
Long weekend kemaren yang harusnya bisa buat belajar aku malah ada acara GAMED.
Dan minggu kemaren yang ada SG BEM.
Dan H-1 ujian yang malah nonton Musikal Laskar Pelangi.
Sempet kepikiran, “Anjir lah mati aja ini udah bloknya susah, belajar cuma sekepret, gimana besok ujian

And guess what?
Tadi, nilaiku sama persis kayak nilai blok 1.4 kemaren.
Begitu nilai itu keluar di layar komputer, yang ada di pikiran cuma satu.
Allah murah hati banget. Terlalu murah hati malah

Kenapa, gitu? Aku berprinsip usaha itu sebanding sama hasil. Usaha maksimal, maka hasil juga akan maksimal. Masa usahaku yang cuma sekepret ini di’hargai’ sama dengan usahaku yang kemaren? Blok kemaren aku bener-bener totalitas, walaupun hasil yang kudapat ternyata belum total. But I consider myself deserve perfect score. Sedangkan blok ini? Aku merasa usahaku belum cukup pantas untuk dapat nilai segitu. Kayak blok ini bejo aja gitu.
Aku bertanya-tanya. Iya aku percaya kok bahwa PASTI ada alasannya. Tapi apa? Kenapa?

Well, yah, ini emang berarti aku harus lebih banyak merenung untuk tahu jawabannya….

Advertisements